By: RaY KinZoKu

[Recommend this Fotopage] | [Share this Fotopage]
[<<  <  5  6  7  8  9  10  11  [12]  13  14  15  16  17  18  19  >  >>]    [Archive]
Wednesday, 30-Jul-2008 14:00 Email | Share | | Bookmark
FILLER ENTRY : Surprise, Surprise, Surprise !

.


FILLER ENTRY :

Surprise, Surprise, Surprise !






SURPRISE NO. 1


I was driving through town when I came across this newly put up tourism promo or advert ( or anything you wish to call it ), on a billboard located at Jalan Wakaf Mek Zainab - Jalan Post Office Lama junction.

Just a stone throw away from the well known Kilae Gaessaek.








What really surprised me is that image ..... of a house.

A quick glance and I sensed something very familiar.

So familiar, that when I looked at it again, I was so sure, without any doubt at all, that it was, what I initially think it was. I couldn't help grinning upon realising it.

The image, the angle of the shot, though looked very familiar, doesn't seem to come from any of my digital possessions. Simply put, it was neither mine nor I had anything to do with it. Still, I had this strong feeling that to come up with the image, someone must surely had gone through and took interest in what I previously wrote.

While it is great to see the house up there, it is however, quite ironic for the advert, promoting traces of old Kelantanese heritage still left in Kota Bharu, to display the magnificent century old timber structure, when it is no more to be found in Kelantan ... let alone in Kota Bharu !

Those who knows nothing about it, would certainly be led to believe that the structure is somewhere close by - as a part of local " warisan " ( heritage ), to be " jejak " ( traced & found ) in Kota Bharu. If so, it would be a misleading statement, an irony or worse, a sarcasm in disguise - in light of the ongoing demise of Kelantanese architectural treasures.

( or is it, " menjejaki semula warisan yang telah tiada " ? Ehehe .... )

Nevertheless, and to be fair, the move really deserves an applause, a truly praiseworthy effort - of course, provided that it lives up to its name and real objective, whatever it might be.

Hopefully, through such, there will be no more magnificent old Kelantanese architectural beauty kissing the ground, in this well reputed " Cradle of Malay Civilization ".





SURPRISE NO. 2


I was travelling one day, down Jalan Long Yunus from Tanjung Chat towards
Jalan Telipot, when I saw something bizarre, hanging on the lamp pole just outside Sekolah Kebangsaan Islah !!

No, not a Hantu Raya, not a lost Orang Lenggor or even Mat Rempit ....

Just another, commonly found anti-Aedes mosquito ( anti-Dengue fever ) campaign banner but with a very familiar touch :









Again, with no doubt, it was the HOUSE .... again.

This time I am truly sure where the person behind it, got the image from.

While I appreciate he or she who decided to publicize it, albeit in this manner,
I was quite disturbed as, upon closer inspection, the image was obviously taken from my site, of course, without my consent and permission.

Not even a photo credit !

Just in case if you don't believe me :









SURPRISE NO. 3


Travelling down the road from the town centre en route to Pantai Cahaya Bulan,
the sight that I always anticipate after crossing Sungai Keladi Bridge and upon reaching the Kampung Cina Roundabout, is an old Chinese family house, with a distinctive, old Kelantanese Chinese architecture.

Single wooden structure with wide, slanting long roof of Singhorra tiles - features representing the local Chinese culture which I find unique and enjoyable to look at.

But now, I think I am going to miss the wonderful sight ..... well, sort of ...













I have these love and hate relationships with billboards and banners.

To me, an excellent, creatively, brilliantly designed and wisely positioned billboard or banner is a great work of art, even giving a particular place, a unique identity to boast of.

But even an " excellent, creatively, brilliantly designed " one would prove inappropriate, useless or worse, an eyesore if little care was taken in placing it in public.

That I am afraid, if such activity is not properly monitored, Kota Bharu will definitely replace or at least challenge Shah Alam, Petaling Jaya or even Penang in terms of eyesore advertisement boards and banners ....

One of those things that I hope Kota Bharu would not turn into.



Quote:

    " I HAVE noticed of late a significant proliferation in the putting up of
    billboards in Penang.

    A long stretch of billboards has been erected along Gurney Drive near
    Gurney Plaza.

    These boards are placed so near and so close to each other, they stand
    out like a sore thumb against the beautiful backdrop of the sea.

    ........

    These huge billboards and banners are such an eyesore at these tourist
    attraction areas and along these scenic routes ..... "


    Billboards An Eyesore In Penang - The Star Online : Tuesday, June 17, 2008.




Quote:

    " Datuk Bandar Petaling Jaya, Datuk Roslan Sakiman berkata, pembekuan
    tersebut adalah bagi memudahkan kerajaan negeri mengenal pasti papan
    iklan yang mempunyai lesen dan sebaliknya.

    Selain itu, katanya, langkah itu juga adalah bagi menghindarkan kewujudan
    papan iklan yang tidak teratur sehingga mencacatkan pemandangan ... "


    Lesen Papan Iklan Baru di Petaling Jaya Dibeku - Utusan Online : 1 Ogos 2008.






SURPRISE NO. 4


Very recently, an acquaintance of mine had the family very old, ornate Cengal wood archway ( some say, a gateway ) - once proudly marking, adorning the entrance to a short pathway leading to his century old family house - sold to an antique collector for a sum far less than the price of a decent scooter.

For all these years, it stood there, by the roadside of Jalan Post Office Lama, as perhaps one of the last few remaining relics of pre-colonial Kelantan. A subject of awe and amazement for a young passer-by like me, who is easily amazed and proud with the fine workmanships of the past, shown on such remarkable pieces.

Now tucked away in an unknown location, in someone private collection, I feel sorry for it.

For not being able to educate the public,

like it silently did for all these years .....







Monday, 21-Jul-2008 13:00 Email | Share | | Bookmark
Masjid Lama Mulong : Apabila Diri Kembali Disayangi ...

Masjid Lama Mulong : Pandangan Dari Jalan (1)
Masjid Lama Mulong : Pandangan Dari Jalan (2)
Masjid Lama Mulong : Pandangan Dari Jalan (3)
View all 27 photos...
.



MASJID LAMA MULONG :

Apabila Diri Kembali Disayangi ...




( boleh dianggap sebagai satu kesinambungan dari entri yang lepas )



Masjid Ar-Rahman atau lebih dikenali sebagai Masjid Lama Mulong.

Sungguh tak disangka, walaupun dari kejauhan tampak biasa sahaja,
spesimen yang mempamerkan keunikan warisan silam senibina Melayu Kelantan yang kini amat jarang dapat disaksikan, rupa-rupanya masih berdiri utuh di sini, jelas tersergam di satu pinggir Jalan Kuala Krai, tidak jauh dari Masjid Lama Kampung Laut !

Ianya terletak lebih kurang 8 kilometer ke selatan pusat bandar Kota Bharu, di satu kawasan bernama Mulong, dalam Daerah Pendek, Jajahan Kota Bharu. Mencarinya juga tidak susah, kurang satu kilometer ke utara Masjid Lama Kampung Laut di Nilam Puri dan cuma sejengkal kera dari bahu jalan yang dimaksudkan. Jelas kelihatan biarpun dari atas kenderaan yang bergerak.

Walaupun tidak dapat dipastikan bila ianya dibina ( sumber tidak rasmi menyatakan, awal abad ke-20 ? ), tatacara pembinaan serta ciri-ciri senibina yang ditunjukkan adalah tipikal bagi senibina tradisonal Melayu Kelantan sebelum Perang Dunia Kedua. Ciri-ciri tersebut dapat diperhatikan pada bahagian dinding, pintu, tiang, ruang atap dan juga struktur keseluruhan bangunan. Walaupun hampir ketiadaan bahagian yang berukir, ukiran pada pepenjuru tiang-tiang utama, walaupun ringkas, dirasakan amat unik serta tidak ditemukan pada tiang-tiang seumpamanya pada binaan-binaan tradisional lama lain di Kelantan.

Apa apa pun, yang lebih mengujakan aku adalah,
setelah sekian lama dalam keadaan agak terabai dan dimamah usia, bangunan masjid ini kelak akan dipulihara secara proaktif, oleh Jabatan Warisan Negara. Itu pun dari apa yang aku baca dari notis-notis yang sedia tertampal di beberapa bahagian masjid.

Syukurlah kerana dengan demikian, nampaknya ada satu bentuk jaminan yang ianya akan terus kekal buat tatapan generasi kini dan mendatang. Walaupun semasa aku ke situ, masih tidak kelihatan langkah yang diambil ( mungkin masih dalam perangkaan ), aku tetap terdorong untuk menyatakan sepenuh penghargaan dan tahniah atas keprihatinan dan inisiatif yang ditunjukkan oleh pihak berwajib.

Setidak tidaknya ada jaminan yang ianya tidak akan terus terbiar dimamah usia, menanti roboh, atau berakhir di kedai-kedai antik buat simpanan peribadi atau diangkut jauh ke luar Kelantan atau pun sekadar berakhir sebagai kayu api buat memasak Gulaa Kawoh, Sambaa Daging, Surgho dan seumpamanya.

Tahniah !

Errrrrr ... tapi, bagaimana pula dengan yang lain ?







* Apa yang dikenali sebagai Dinding Janda Berhias

Binaan dinding seperti ini adalah kebiasaan bagi masjid-masjid, istana dan kediaman-kediaman golongan
bangsawan dan berada di Kelantan sehingga awal abad ke-20. Dibina melalui gabungan kepingan-kepingan
panel kayu dan disusun dengan sedemikian rupa.

Kelihatan di bahagian dinding ini, adalah dua keping akrilik telus cahaya yang dipasang bagi menggantikan
panel kayu asal, bertujuan menggalakkan lagi pencahayaan dalaman bangunan.

Bahagian dinding, di hujung kiri gambar adalah tambahan baru, mungkin bagi menggantikan dinding asal
( janda berhias ) yang telah usang dan reput.







* Unjuran lantai dan tiang berukir.

Unjuran lantai sebegini memang unik bagi binaan tradisional Melayu Kelantan sebelum Perang Dunia Kedua.
Struktur sebegini juga turut kelihatan pada beberapa rumah-rumah lama di bandar Kota Bharu. Tujuan diadakan
sedemikian tidak pula dapat dipastikan.

Kelihatan juga ukiran pada tiang.
Walaupun berniat baik, cat yang berlebihan, lebih-lebih lagi jika berlapis-lapis hanya akan melenyapkan
manifestasi ukiran seperti ini - tetapi, nampaknya terpaksa juga dilakukan demi memulihara kayu.







* Bahagian mimbar dan bahagian saf hadapan.

Apa yang pada kebiasaannya dipasang tiang, digantikan dengan sambungan khas yang ditandakan dengan
Buah Gutong pada siling. Siling sebenarnya tidak wujud dalam senibina tradisional Melayu. Siling yang
kelihatan merupakan tambahan baru, yang memungkinkan lampu dan kipas dipasang.

Berkenaan mimbar, masjid ini tidak lagi diwartakan sebagai masjid bagi tujuan solat Jumaat.
Sejak bila, tidaklah diketahui. Yang pasti, dahulunya ia berperanan penuh sebagai masjid mukim
dan kini ianya sekadar bertaraf sebuah masjid iktikaf semata.







* Pepenjuru yang berukir pada hujung bawah dan atas tiang utama.

Satu ciri yang unik, rasanya tidak ada pada tiang-tiang seumpamanya seperti di Istana Balai Besar,
Istana Jahar mahupun Masjid Lama Kampung Laut.







* Tiada paku, skru mahupun bolt dan nat digunakan.

Struktur sokongan dan sambungan pada ruangan atap yang unik bagi senibina tradisional Melayu.
Hanya sambungan tanggam dan pasak kayu sahaja. Perhatikan juga barisan kayu jerghia ( jerial )
yang pastinya dahulu, buat menyangkut atap bata Singhorra.







* Sisip angin berukir, dengan ukiran geometrik.

Bagi memudahkan pengaliran udara, bertujuan menyejukkan ruang dalaman pada zaman tatkala kipas elektrik
dan tenaga elektrik, sesuatu yang tidak terlintas di fikiran. Tipikal bagi kediaman tradisional masyarakat Melayu.







* Imej kiri :

Buah Gutong ( juga disebut Buah Guntong, Buton, atau Buntong ) pada siling.

Dipasang di sini bagi menggantikan apa yang kebiasaannya adalah tiang.
Bertujuan meluaskan lagi ruang dalaman bangunan.


Imej kanan :

Pintu jenis lama, tipikal bagi binaan kayu tradisional sehingga awal abad ke-20.

Tiada engsel logam. Berfungsi dengan turus kayu bulat pada hujung atas dan bawah daun pintu.






KEMASKINI 20 MAC 2009


Nampaknya apa yang dinanti akhirnya terjadi jua.

Petikan akhbar Utusan Malaysia Online, 19 Mac 2009 sebagaimana dipetik di bawah akhirnya membawa berita yang aku nanti-nantikan selama ini.

Masjid tua yang unik ini akhirnya mendapat perhatian dan pembelaan yang sewajarnya dari pihak yang berkenaan. Namun, malang sekali kerana aku tak dapat mengikuti ( dan membuat liputan ) kerja-kerja yang dilangsungkan kerana terpaksa meluangkan masa berbulan-bulan lamanya di luar Kelantan semasa ianya bermula. Sehingga kemaskini ini dinaikkan sekalipun, aku masih lagi berada di luar Kelantan, entah bila dapat pulang.

Apa apa pun, yang pasti, aku tumpang gembira !



Quote:





    Keunikan Masjid Lama Mulong

    Oleh ASMA HANIM MAHMOOD
    utusankelantan@utusan.com.my


    KOTA BHARU 18 Mac - Seimbas pandang dari luaran, Masjid Lama Mulong, terletak
    hampir 10 kilometer dari bandar ini hanyalah sebuah masjid biasa yang kecil dan sudah
    dimamah usia serta mungkin menunggu masa untuk roboh.

    Namun tidak ramai yang menyedari, masjid yang tidak lagi diwartakan untuk solat
    Jumaat itu disenaraikan sebagai Bangunan Warisan Negara, satu monumen yang akan
    terus dipulihara untuk kegunaan dan tatapan generasi akan datang.

    Pesuruhjaya Jabatan Warisan Negara, Datin Paduka Zuraina Majid baru-baru ini
    mengumumkan ia adalah antara 11 bangunan bersejarah di seluruh negara yang diberi
    tumpuan untuk baik pulih sepanjang tahun ini.

    Projek ini telah bermula sejak 23 Oktober 2008 dan ia dijangka siap sepenuhnya Mei
    depan. Setelah sekian lama dalam keadaan agak terabai, tindakan proaktif ini
    memberi jaminan ia akan berkekalan.

    Sebenarnya masjid kayu yang didirikan tanpa paku selain sambungan tanggam dan
    pasak pada era 50-an itu, mengetengahkan keunikan warisan silam seni bina Melayu
    Kelantan yang kini amat jarang dapat disaksikan.

    Walaupun reka bentuk binaannya agak ringkas, ciri-cirinya biasa kedapatan di istana
    dan kediaman golongan bangsawan di negeri ini pada masa silam yang menonjolkan
    kepakaran tukangnya.

    Ia boleh dilihat pada struktur keseluruhan bangunan, pada bahagian dinding, pintu, tiang
    dan ruang atap walaupun bahagian yang berukir hampir tiada.

    Asalnya daripada bahan binaan istana di Balairung Seri Raja Dewa di bandar ini yang
    dibangunkan pada awal 1900, dirombak dan dibina semula sebagai masjid di bahu
    jalan atas tanah wakaf Abdul Rahman Ismail dan dikenali sebagai Masjid Ar-Rahman.

    ..................................


    * Baca selanjutnya di SINI

    * Berita berkaitan di SINI









Saturday, 12-Jul-2008 19:30 Email | Share | | Bookmark
FILLER ENTRY: Kelantan, Durian dan .... Budu !

.

FILLER ENTRY :

Kelantan, Durian dan .... Budu !









Musim Durian tiba lagi ....

... dan sekali lagi, pinggir jalan-jalan utama di seluruh Kelantan akan dibarisi kelibat penduduk kampung sekitar, duduk tercongok di atas bangku, di atas pangkin, di bawah sekerat teduhan, sambil memperagakan durian kebanggaan - hasil dari dusun atau belakang rumah masing-masing.

Durian telah sekian lama dihargai oleh rata-rata penghuni Kepulauan Melayu, bak kata sesetengah orang Kelantan, semenjak zaman Jakpaa Tonggek lagi !

( Usah ditanya siapa itu Jakpaa Tonggek ! Aku pun tak kenal ... )

Betapa masyhurnya durian di Kepulauan Melayu, perihal kewujudannya telah tersebar hingga ke Eropah seawal 600 tahun dahulu, menerusi Niccolò de' Conti, seorang saudagar kelahiran Venice, yang bertandang ke Asia Tenggara pada abad ke 15 ( sebelum kedatangan Portugis ke Melaka ). Beliau dilaporkan sebagai orang Eropah yang pertama yang membawa khabar kewujudan si Raja Buah ke benua Eropah. Semenjak itu, durian terus menjadi topik kajian dan penulisan bangsa Eropah, dengan interpretasi berkenaan rasanya yang pelbagai, yang berterusan dibahas sehingga sekarang.

Aku teringat akan satu catitan oleh W.A. Graham, seorang pegawai Inggeris yang pernah berkhidmat di Kelantan antara 1903 ~ 1910, yang menghuraikan tentang durian dan juga sikap masyarakat setempat terhadap durian ketika itu.

Dengan huraian yang agak menarik, Graham menjelaskan dalam bukunya, " Kelantan : A State of The Malay Peninsula " ( 1908 ), sebagaimana dipetik :








* " Kelantan : A State of The Malay Peninsula " ( 1908 ), James Maclehose & Sons,
Glasgow, Scotland - mukasurat 79, 80, 81, Chapter XII Agriculture.




Kata Graham,

" The eating of the durian is a serious business ".

Betapa serius, selain apa yang dihuraikan oleh Graham, masyarakat Kelantan telah maju setapak ke hadapan dengan membawa seni menikmati durian ke peringkat yang berbeza, berbanding masyarakat Melayu lain.

Di Kelantan, durian juga dianggap sebagai salah satu penyeri, pelengkap dan gandingan ideal kepada .... budu !

Durian segar, sama ada telah dibuang biji atau belum, akan dibubuh ke dalam mangkuk berisi budu bersama-sama perahan limau nipis ( yang terbaik pastinya Asae Limaa Kerghak Laettae ) dan Lado Chengik ( Cili Padi ) yang dilenyek dengan kejamnya, dan seterusnya diratah begitu sahaja atau bersama nasi. Peminatnya dikatakan tidak sedikit dan kamu mungkin salah seorang !

Hah, kepada yang masih kabur, lebih kurang beginilah rupanya :





* Imej Budu Durghiyyae " dipinjam " dari sseme's photostream di Flickr. Sila klik imej untuk ke sumber asal.




* Pengilang budu ( pati bilis ) ini telah menjadikan Durian sebagai mangsanya ...
Malang sekali, durian punya besar gedabak, petai juga yang dapat nama !




Dan aku .....

budu dan durian adalah satu kombinasi yang masih tak mampu aku cernakan ...

Sekian, terima kasih ... he he he







Friday, 20-Jun-2008 16:00 Email | Share | | Bookmark
FILLER ENTRY : Andai Di Pisah ..... Pantai dan Irama

.

    FILLER ENTRY :

    Andai Di Pisah .... Pantai dan Irama




    Lemah ... tiada berjiwa

    hampa ....



* Pantai Irama, Jajahan Bachok - Disember 2006




* Pantai Irama, Jajahan Bachok - Jun 2008






* Pantai Irama, Jajahan Bachok - Disember 2006




* Pantai Irama, Jajahan Bachok - Jun 2008



* PERHATIAN :

Bagi mengelakkan kekeliruan,
kawasan yang ditambak sebagaimana dalam foto-foto di atas sebenarnya bukanlah
" Pantai Irama " yang biasa menjadi tumpuan umum. Namun demikian, ianya terletak
hanya bersebelahan ( belakang Tabung Haji ), bahkan jelas kelihatan dari Pantai Irama.
Kerana itu, ianya bolehlah juga dianggap sebagai sebahagian jaluran Pantai Irama.

Penduduk setempat memanggilnya, " Pantai Kuala Belongae ".





Kehilangan tanah kerana masalah hakisan, satu hal.

Kehilangan artifak sejarah kerana masalah hakisan dan pengabaian pula, satu hal.

Yang ajaibnya,
apabila memikirkan isu kehilangan " tanah " dan " sejarah " dengan serentak,
entah kenapa, teringat pula dengan kisah yang berikut :




Quote:

    " ......... Merujuk kepada surat daripada Pemangku Setiausaha Kerajaan (SUK)
    negeri Johor pada 1953 kepada Singapura, yang mengatakan bahawa kerajaan
    Johor tidak menuntut hak milik ke atas Pulau Batu Putih, Dr. Ramlah berkata,
    ia juga menunjukkan kelemahan pentadbiran kerajaan negeri pada masa itu.

    "Pengakuan kita (surat SUK) bahawa ia (pulau) bukan hak milik kita menunjukkan
    kelemahan dan kesalahan kita betapa tidak menggunakan sejarah sebagai panduan
    dan tidak membuat rujukan serta penyelidikan yang betul.

    "Ini pengajaran kepada Malaysia betapa pentingnya dokumen-dokumen sejarah
    dan merujuk kepada orang yang terlibat sebelum membuat keputusan," katanya
    ketika dihubungi hari ini ...... "


    Petikan dari :
    Utusan Malaysia Online, 24 Mei 2008 : Pengajaran kepada Malaysia









Apa kaitan ?

Haaaa ... ada kaitannya .... dalam konteks tersirat ...

Tapi kena fikir, dan renung renung sendiri laa ....






BACAAN BERKAITAN



Quote:


    The New Straits Times 25 Sep 2006 : Shrinking Malaysia

    * 1,400km coastline being eroded;

    * Up to 40m of land in 33 areas lost yearly;

    * More than 70pc of Kelantan, Perlis and Selangor coastlines facing erosion;

    * Malaysia faces huge losses in lives, property.


    KUALA LUMPUR: Malaysia is shrinking. Literally. Thousands of lives and millions
    of ringgit in property are in danger in at least 93 areas of the country as the hungry
    sea continues to gobble up land.

    In 33 areas, the authorities confirmed, we are losing stetches of up to 40 metres of
    land a year. Drainage and Irrigation Department (DID) statistics reveal that 223
    stretches of our coast — or 1,414km of land — are being eroded. But coastal folk,
    especially fishermen, say government figures are too conservative. They may be
    right as the number of "critical" areas has increased in the last 10 years, despite
    government efforts to stem the tide.

    ................

    The top beaches in "critical" condition are Pantai Sabak in Kelantan, Bagan Datoh in
    Perak and the Kuala Sala and Kuala Kangkong stretches in Kedah.

    ................

    He said the states with the worst coastal erosion were Kelantan (73.4 per cent of the
    coastal area), Perlis (72.5 per cent) and Selangor (71.3 per cent).

    "For Pantai Sabak in Kelantan, erosion has taken away a stretch of 200 metres in the
    last 10 years."

    However, the state with the most number of beaches in the "critical" category is Kedah
    with 16 beaches, followed by Pahang with 11 beaches, and Selangor with 10.

    ................

    Short-term measures include placing large rocks or linking concrete blocks, called
    "revetment", on the beach to absorb the force of the waves. Another way is to induce
    sedimentation by placing "groynes", which are structures built into the sea, to keep the
    sand within the zone created by it.

    For beaches with aesthetic value such as Batu Ferringhi in Penang and Port Dickson
    in Negri Sembilan, Keizrul said placing rocks would mean there would no longer
    be a beach.


    "Here we do something called "beach nourishment" where we bring in sand to the beach.
    Since the sea will eventually take this sand away, we have to do this once every five
    years," he said.


    Read The Full News Here







Monday, 9-Jun-2008 16:00 Email | Share | | Bookmark
FILLER ENTRY : Sungai Kelantan

.

    FILLER ENTRY : Sungai Kelantan


    Kelantanese Summer and the Mighty River











* Top :
A man, pulling an empty cart to his boat for a new load of sand.
In a shed nearby, he was seen making cement bricks, a super cheap alternative to baked clay, using the sand taken from the river.

Hauling sand from the river for construction use is currently a lucrative business along the river.
However, many locals started to express concern over the activity as it is thought to contribute to the near disappearance of the once-very-abundant Etok ( a type of freshwater clam ) and also turning the water, notoriously murky. On the other hand, I think the cause for the latter, could be found further inland ......

For the side note, the green pasture seen on top, right hand side of the photo, is not the other river bank but an islet in the middle of Kelantan river.


* Bottom :
Emerging sandbank and an joyful evening ride on a motorboat.

Dryer months mean less rain and less rain means low water level and sandbanks, and also excellent time for myriads of activities associated with the river.

I notice these days that people are beginning to hit the river like never before.
Boat racing are getting common. Last time I even saw peoples with their jet-skis. What's next ? Parasailing ?








[<<  <  5  6  7  8  9  10  11  [12]  13  14  15  16  17  18  19  >  >>]    [Archive]

© Pidgin Technologies Ltd. 2016

ns4008464.ip-198-27-69.net